Beberapa Bakteri Mematikan Serang Tanaman Cengkeh Tak Bertuan

            Ponorogo, SMN - Musim kemarau tahun ini membuat khawatir ratusan petani cengkeh di Ponorogo. Selain berpengaruh pada  produktivitas, para petani tersebut juga dihadapkan pada serangan Bakteri Pembunuh Kayu Cengkeh (BPKC) yang mematikan dan selama ini sangat meresahkan. Serangan dan penyebaran bakteri ini ternyata sulit terdeteksi dan telah menyerang 218.51 Ha lahan kebun cengkeh yang berada di Kecamatan Ngebel.

Dalam kasus ini Dinas Pertanian kabupaten Ponorogo tidak menutup mata dan tinggal diam terbukti pada Senin (04/07), Harmanto kepala Dinas pertanian Ponorogo turun ke lokasi guna melihat langsung kondisi tanaman cengkeh yang telah terserang bakteri pembunuh kayu cengkeh di Kecamatan Ngebel. Selain itu dia bersama stafnya juga memberikan penyuluhan kepada para petani tentang bagaimana methode dan cara untuk membasmi dan memutus penyebaran bakteri tersebut. Metode pembasmian bakteri yang disosialisasikan kepada para petani cengkeh yaitu dengan cara mengebor batang pohon cengkeh, kemudian insektisida dan antibiotik sebagai penangkalnya dimasukan dalam bentuk cairan dan ditutup supaya terserap tanaman, ”ini sebagai langkah awal saja,kalau toh tidak berhasil membasmi bakteri maka terpaksa pohon harus segera dipotong hingga pangkal, langkah ini terpaksa kita lakukan untuk mencegah penyebarannya,” tegas Harmanto. Selain itu Dinas pertanian Ponorogo juga memberikan bantuan power spray kepada petani walaupun jumlahnya masih terbatas.
        Sementara Ir. Sutanto kepala dinas perkebunan ponorogo ditemui diruang kerjanya menjelaskan, ”bakteri yang menyerang itu bermula dari Trenggalek, menyebar melalui Ngrayun yang memang berbatasan dengan Trenggalek, sehingga daerah yang paling banyak terserang bakteri ini adalah juga daerah Ngrayun, yang kemudian menyebar ke daerah lain sampai ke Ngebel, sekalipun saat ini kecamatan Ngebel seranganya belum separah daerah Ngrayun”.
        Akibat serangan bakteri tersebut tanaman cengkeh di Ponorogo dengan luas 2500 Ha saat ini yang produktif tinggal sekitar 1500 Ha, sehingga terjadi penurunan produksi sangat drastis.Karena itu membuat harga cengkeh dipasaranpun melambung cukup tinggi yaitu menembus kisaran angka Rp 25.000,00 per kg.
        “Tanaman cengkeh yang mempunyai masa produksi mulai usia 4-20 tahun itu bila terserang bakteri pembuluh kayu cengkeh (BPKC) akan diawali dengan daun menguning yang lama kelamaan akan meranggas dan akhirnya mati,”jelas Sutanto. Selain itu perawatan dan perlakuan terhadap tanaman produktif yang asal-asalan dan kurang perhatian,kurangnya pemupukan dan penyiangan membuat daya tahan tanaman juga menurun,harusnya dari hasil panenan itu disisihkan sedikit khusus untuk perawatan, bukannya begitu panen hasil penjualanya langsung habis digunakan untuk kebutuhan,tapi bagaimana lagi sulit untuk memberikan pemahaman kepada mereka (petani, red), tegasnya. (ars)  
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

0 Response to "Beberapa Bakteri Mematikan Serang Tanaman Cengkeh Tak Bertuan"


KLINIK KANG JANA

KLINIK KANG JANA